Selasa, 08 Mei 2012

Kartini dan Emansipasi Wanita

Sejauh yang saya tahu, Kartini adalah seorang pahlawan emansipasi wanita di Indonesia. Kisah perjuangan hidupnya pada akhirnya menjadi tonggak lahirnya era emansipasi wanita seperti sekarang ini. Wanita dapat bersekolah, mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, bekerja, berkarier di luar rumah, bahkan menjadi pemimpin negara tercinta ini.



Akan tetapi, bagaimana sih sejarah beliau, bagaimana dan upaya apa saja yang beliau lakukan untuk negeri ini? Mengapa dan apa alasan beliau bersikeras bahwa kedudukan wanita dan pria patut untuk disejajarkan? Rasanya terlalu banyak pertanyaan di dalam kepala saya, sehingga menggugah saya untuk segera browsing semua tentang Kartini. Hmmmm so amazing stories, isn't it? Sosok perempuan yang sukses membuat saya sangat envy dan ingin menjadi seperti beliau.

Oke singkat cerita (kalau mau tahu yang lebih panjang, silahkan cek di wikipedia)

Kartini adalah seorang anak priyayi, keturunan bangsawan jawa, putri dari Bupati Jepara. Kartini adalah seorang anak dari keluarga broken home karena ayahnya berpoligami. Kala itu Kartini bisa mengenyam pendidikan hingga umur 12 tahun, karena menurut adatnya, seorang gadis di usia 12 tahun sudah bisa dipingit dan tidak diperbolehkan keluar/beraktifitas di luar rumah.Kartini sangat mahir dalam berbahasa Belanda dan ia mempunyai seorang sahabat pena yang merupakan orang Belanda, yaitu Rosa Abendanon. Kartini banyak membaca buku-buku, majalah, dan koran-koran berbahasa Belanda yang membuka matanya akan dunia yang luas, terutama dunia Eropa.

Kartini begitu kagum akan pemikiran-pemikiran maju para wanita eropa dan hatinya tergugah untuk memajukan kehidupan perempuan pribumi khususnya wanita jawa yang berada pada status sosial yang begitu rendah. Kartini banyak berkirim surat kepada sahabat penanya, mengungkapkan kegelisahan dan kegundahan hatinya akan kekangan-kekangan adat istiadat jawa yang begitu membatasi ruang gerak wanita. Karena, kala itu tugas wanita hanyalah sebagai ibu, mengurus anak dan dapur. Selain itu, takdir wanita jawa hanyalah dipingit, dijodohkan oleh orang tua, dan harus bersedia dimadu, tidak bisa berkarya, berpendapat, bahkan belajar dan tidak boleh lebih pintar dari suaminya. Dia juga mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan poligami, dengan adat jawa yang menjadikan hukum Islam tentang poligami sebagai senjata kuat untuk beristri semaunya. Dari beberapa surat-suratnya yang dikirimkan kepada majalah wanita Belanda,De Hollandsche Lelie, dia banyak menaruh perhatian agar wanita memperoleh kebebasan dalam berkarya, berotonomi, dan persamaan hukum yang lebih luas. Namun, kedekatan Kartini dengan wanita-wanita eropa tersebut memberikan ruang kepada mereka dalam melaksanankan kristenisasi terhadap Kartini.

Akibat kejadian tersebutlah, berdasarkan surat-surat terakhir Kartini sebelum ia wafat, banyak mengulang kalimat 'Door Duisternis Tot Licht' yang sekarang kita kenal dengan kalimat 'Habis Gelap Terbitlah Terang'. Kartini menuliskan kata=kata tersebut setelah terinspirasi dari potongan ayat Al Qur'an surat Al Baqarah ayat 257, yang berbunyi minadz-dzulumati ilannur yang artinya 'dari gelap menuju cahaya'. Kartini yang mempunyai rasa ingin tahu yang besar, mendapatkan ilmu tersebut dari hasil bergurunya pada Kyai Sholeh Darat yang berasal dari Semarang. Beliau banyak belajar Al Qur'an beserta terjemahannnya, karena belaiau merasa canggung jika belajar Al Qur'an, menghafalkannya tanpa mengetahui arti dan maknanya.

Hal inilah yang kemudian menjadi titik balik perubahan hidup Kartini yang semula gelap (mencintai budaya kebarat-baratan) dan menganggap agama adalah penyebab keterbatasannya dalam bergerak dan berkarya, kemudian menjadi terang setelah mempelajari dan mendalami Al Qur'an secara mendalam.

Mengutip surat Kartini di hari-hari terkahir masa penceraannya, “Sudah lewat masanya. Tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sendiri mulia? …” surat Kartini pada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902.

Emansipasi Wanita yang Salah Kaprah

Teman-teman yang saya cintai, dari sejarah singkat yang saya jelaskan di atas, kita bisa melihat dan mengerti bahwa Kartini banyak mengalami peristiwa-peristiwa hebat di dalam hidupnya. Perjalanan kedewasaan dan menuju jati diri beliau banyak memberikan pandangan-pandangan baru tentang kecintaannya terhadap agamanya.

Emansipasi wanita yang masyarakat Indonesia tahu pada umumnya adalah beliau perjuangkan sebelumnya adalah kesetaraan yang sama antara wanita dan pria dalam semua hal. Padahal, menurut kutipan surat beliau kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902, mematahkan pendapat secara umum tentang emansipasi wanita. “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi, karena kami yakin pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

Dari surat tersebut, bisa kita pahami bahwa, Kartini memperjuangkan pendidikan bagi wanita. Pendidikan bagi wanita merupakan hal yang sangat penting agar para wanita bisa melakukan tugas-tugasnya sebagai istri, ibu, secara cerdas, sehingga bisa melahirkan anak-anak bangsa yang berkualitas dalam rangka memajukan bangsa ini. Bukan emansipasi yang menuntut agar wanita bisa menyaingi lelaki dan menyalahi kodrat sebagai wanita seperti juga yang sudah diatur oleh agama. Bukan emansipasi yang 'kebablasan' bagi wanita.

So, teman-teman, berdasarkan hal tersebut di atas, semoga kita semua benar-benar memahami dan melaksanakan emansipasi wanita dengan sebaik-baiknya. Terima Kasih :)

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar